Jumat, 22 Mei 2009

Tidak Ada Asap Jika Tidak Ada Api

Aku kira tidak ada seorangpun yang mempunyai cita2 sebagai pembantu.Tidak ada seorangpun yang tahu tentang esok hari.Namun manusia kadang terperangkap dalam roda kehidupan,yang membuat manusia bertahan atau bahkan terkilas kehidupan.

Minimnya tingkat pendidikan,menjadi penghalang seseorang dalam mendapatkan mata pencaharian dalam kehidupan sosialnya.Pendidikan di tanah air meski gratis tetap saja dirasa tinggi oleh kalangan menengah ke bawah.Sehingga banyak masyarakat kita yang putus sekolah dan lebih memilih bekerja untuk membantu menompang kehidupan keluarganya.Dengan berbekal pendidikan yang kurang memadai,dan usia yang tidak layak mereka memberanikan diri berpetualang menjadi migran atau tkw ke berbagai negara tujuan migran.

Dengan bekal kemauan yang tinggi untuk merubah kehidupan yang lebih baik,mereka bisa berangkat ke berbagai negara yang mereka inginkan.Bagaimana dengan data2 diri mereka???????bukan hal yang sulit,pihak pjtki sering memanipulasi data mereka,hal ini bisa dilihat dari umur,alamat maupun akta lahir dan sebagainya.Tidak selamanya kehidupan migran menjanjikan masa depan yang baik.Terkadang malah memberi petaka,yang bisa membawa trauma psikilogis dalam kehidupan.

Bagi mereka yang pertama kali bekerja menjadi migran pasti mengalami berbagai kesulitan,meski mereka telah diberi pembekalan dari penampungan sebelum menjadi migran. Kesulitan yang dihadapi mulai dari komunikasi/bahasa,beradaptasi dengan musim,dan budaya. Disamping hal tersebut mereka akan merasakan tekanan yang berat dari majikan bilamana majikan tidak bersahabat atau tidak bisa menerima dengan kedua belah tangan bahwa pembantu adalah bagian dari keluarga mereka.bahkan sering seorang majikan menganggap pembantu adalah robot yang bisa dipekerjakan 24jam sehari,bahkan ada yang menganggap ia adalah tempat sampah yang bisa dijadikan tempat melimpahkan semua keluhan dalam hidup. Sebagai manusia pasti kita bisa merasakan tekanan batin tkw,mereka berjuang dengan mengorbankan perasaan/harga diri,tidak ada tempat berkeluh kesah karena jauh dari keluarga di tanah air.

Kesabaran memang ada batasnya bagi seseorang.Begitu juga dengan kesabaran tkw dalam bekerja,mereka tidak pernah berkeluh kesah meski pekerjaan yang terasa berat mulai bangun tidur sampai larut malam.Dipagi hari mereka harus berperang melawan rasa kantuk untuk memulai pekerjaan.Disaat larut malam tetap bekerja menuntaskan kewajiban mereka dengan melawan rasa capek/lelah yang menyerang tulang2 mereka.Belum lagi mereka harus bersabar dengan ulah /sikap majikan bahkan harus tabah menghadapi anak2 asuh yang terkadang makan hati.

Dalam ketidakberdayaan,ketakutan akan kehilangan pekerjaan karena akan memberi dampak buruk seperti harus mengganti rugi biaya proses pemberangkatan kepada pjtki yang bersangkutan,tidak bisa merubah kehidupan,maka terkadang mereka memakai kepercayaan kuno untuk meluluhkan hati majikan meski hal tersebut tidak masuk logika.

Jika majikan tersebut menyadari tidak ada manusia yang sempurna,dan bisa terbuka dengan pembantu,aku kira tidak mungkin timbul hal2 yang bisa merugikan kedua belah pihak.Bahkan tidak akan ada hal2 yang bisa melahirkan tindakan kriminal.Tidaklah arif jika kita hanya menyalahkan sepihak tanpa mengetahui api yang menyebabkan asap

Tidak ada komentar:

Posting Komentar