Akhirnya kumulai merajut kata meski telah sekian lama mengkarat diotak. Menunda,menunda akhirnya tertunda dan terbengkelai. Entah dari mana kumulai goresan ini. Meski agak acak-acakan layaknya pikiran yang kalut, kuberanikan menulis.
Satu hal yang pasti aku masih tetap disini, masih bergelut dengan dunia migran. Jujur aku telah bosan dan lelah dengan aktivitas yang monoton, aku ingin melompat ke dunia lain yang memberi sejuta adventure yang menantang diri tuk menggeluti.
Tapi entahlah aku tak bisa, karna Tuhan begitu menyanyangi dan menjaga hidup ini. Terlalu sayang jika kutinggal kesempatan emas ini, tinggal dengan orang-orang yang memberi cinta dan harmony dalam multikultural. Aku masih terus mencari exit tuk keluar meski semua perlu waktu dan persiapan matang.
Benar, satu sisi ingin mengeluh saat lelah menyapa hingga ke sumsum tulang, hati terkelupas oleh kata hingga meninggalkan bekas yang tak pernah hilang. Tapi sisi yang lain berkata bahwa masih banyak yang lebih sengsara, masih banyak yang menginginkan duniaku bahkan iri dengan profesi yang keliatannya ringan namun berat. Tuk apa mengeluh dan meratapi hidup, sedang kehidupan dunia ini tak ada yang kekal, semua terbatas, limited. Hanya monolog hati itulah yang buatku selalu berbesar hati di sini. Tak perlu sedih selagi Tuhan masih menyanyangi dan selalu menyapa dalam hentak detak kehidupan. Keyakinan hati bahwa Dia lah cinta sejati yang buat hati tenang, dan inilah bahagia.
Dan tak terasa Ramadhan tahun ini, aku masih harus menjalani jauh dari keluarga. Inginnya rasanya pulang dan menikmati kebersamaan dengan orang tercinta, tapi tuk apa jika hanya tuk sesaat. Lebih baik aku jauh tuk menggembalakan hati di padang ramadhan tuk menghidupkan diri dengan point ramadhan yang luar biasa, yang tak ternilai dengan materi.
Aku tak perlu bersedih meski jauh, dan tak perlu bertanya karna kuyakin semua ada hikmahnya, bukankah jauh itu juga indah karna menimbulkan rindu dan sayang.Dalam kejauhan belajar tuk mengeksploitasi diri agar menjadi manusia yang matang dewasa dalam melangkah dan berpikir.
Layaknya dinegeri sendiri, awal ramadhan menjadi topik pembicaraan tiap muslim yang tinggal di negara non-muslim. "Kapan puasa? atau tentang jadwal puasa, adalah topik yang bisa ditebak tanpa harus ditanyakan. Terasa aneh, bukankah saat magrib atau shubuh kita sudah tahu waktunya, tapi saat ramadhan hal itu jadi spesial karna kita tahu waktu mulai dari jam hingga ke menit.
Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung, begitu pula prinsip yang aku anut. Meski sebagian manusia beranggapan awal ramadhan jatuh jumat atau sabtu. Bagiku itu bukan masalah. Bukankah mereka beribadah menurut keyakinannya atas dasar ajaran dari guru mereka. Janganlah kita sebagai umat islam yang lil alamin saling mengolok, merasa paling benar, menyalahkan orang lain, dan jangan merasa bisa masuk surga, tapi merasalah sebagai orang yang banyak dosa, sebagai orang kecil, merasa sebagai orang bodoh agar hidup ini tawadlu sopan santun terhadap sesama.
^*bersambung*^
Selasa, 24 Juli 2012
Langganan:
Postingan (Atom)