Minggu, 11 September 2011

Tradisi Ketupat

Tradisi Ketupat


Saat halal bihalal bersama smile club terlontar pertanyaan, “Kenapa halal bihalal selalu identik dengan tradisi ketupat?”


Berbagai macam jawaban terdengar olehku, tapi terasa kurang lengkap. Namun, saat itu mulutku terasa terkunci tak mampu menjawab. Semua jawaban hanya tersimpan dan bergolak di otak ini.



Bagi masyarakat jawa, aku juga orang jawa dan yang pasti seingatku hingga sekarang ini ketupat atau biasa disebut kupat bukan hal yang asing atau baru lagi. Tapi adakah aku, kamu atau kita berpikir secara detail mulai dari pembuatan hingga melihat bentuk ketupat yang persegi, hingga nama ketupat itu sendiri dengan sejuta arti?



Makna Ketupat


Ketupat yang biasa disebut kupat. Pat adalah pembentuk kata ku-pat, dimana pat bermakna lepat/ kesalahan.


Bisa jadi ketupat yang kita makan adalah sebagai pengingat atau mengingatkan orang yang memakannya akan kesalahannya untuk saling bermaaf-maafan dibulan syawal.


Hari Raya Ketupat biasanya setelah sepekan satu syawal (khususnya daerah Tulungagung) Tradisi ini menandakan bahwa kita telah terbebas dari kesalahan, inilah symbolisasi tradisi ketupat. Disamping itu juga mengajarkan kita mau mengakui kesalahan ataupun memaafkan kesalahan orang lain.



Bentuk ketupat


Bentuk ketupat ada dua yakni bentuk ketupat dan belah ketupat.


Tapi sepengetahuanku yang sering kulihat adalah bentuk ketupat yang persegi.


Bentuk ketupat mempunyai lima titik. Ketupat yang kita lihat pasti tidak bengkok, bulat atau melengkung modelnya. Bentuk ketupat sangat seimbang. Coba taruh ketupat diatas meja, kalaupun tidak ada coba kita menggambar model ketupat. Ketupat mempunyai empat arah mata angin yakni utara, selatan, barat dan timur. Tapi berpusat pada satu titik ditengah. Bentuk inilah mengingatkan kita akan Keesaan Tuhan. Subhanallah…


Bila satu titik hilang maka model ketupat tidak bisa seimbang. Dengan melihat model ketupat kita diingatkan kemanapun jalan kita jangan lupa akan titik pusat yakni Tuhan Yang Maha Esa.


Selama berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan, kita menahan amarah atau nafsu emosional, nafsu diri untuk memuaskan rasa lapar, menahan nafsu untuk memiliki sesuatu yang indah, menahan nafsu untuk memaksa diri. Keempat nafsu tersebutlah yang berusaha kita taklukkan selama puasa.


Jadi saat memakan dan melihat bentuk ketupat , “sudah mampukah kita melawan dan menaklukkan nasu tersebut?”


Tapi jujur aku sendiri belum bisa karena sering darah tinggi atau uring-uringan saat berhadapan dengan anak, terkadang gregetan dan sering tarik nafas panjang saat terpentok dengan kurcaci-kurcaci.



Cara Pembuatan


Ketupat adalah beras yang dibungkus janur atau daun kelapa muda. Masih segar diingatanku warna daun kelapa agak kekuningan. Ketupat direbus dalam air dan dihidangkan dengan makanan bersantan.


1.Janur kuning adalah lambang penolak bala, kata leluhur aku sewaktu kecil.


Tapi sejatinya aku sendiri juga kurang faham. Tapi sepengetahuanku janur kuning adalah panjang sehingga mudah untuk membuat bungkus ketupat. Coba kalau pakai daun pisang bukan lagi ketupat tapi lontong. Biasanya pembuatan bungkus ketupat ini beramai-ramai dan ini menunjukkan interaksi sosial manusia disamping bentuk kemeriahan lebaran. Dan tangan-tangan terampil dan cekatan para wanita begitu indah menghasilkan bungkus ketupat. Dan ini tidak mudah, karena dari kecil belajar membuatnya tapi satupun tidak ada yang jadi, benar-benar mudah melihat tapi sulit mempraktekkannya.


2.Beras, adalah symbol kemakmuran. Berharap Tuhan Yang Maha Esa memberi kemakmuran setelah hari raya. Jadi ingat cerita dewi sri atau dewi padi.


3.Santan, atau santen. Kata santen senada dengan kata pangapunten yang berarti memohon maaf.


Mangan kupat nganggo santen


Menawi lepat, nyuwen pangapunten.


Selagi syawal belum berlalu


Selagi ketupat belum basi


Kuucap Minal Aidzin Wal Faidzin


Mohon maaf Lahir dan Batin