Minggu, 28 Agustus 2011
Sayap Patah
Angin menghempasku
Kuharap dirimu bantu aku
Namun....
Tak sepatah katapun terucap
Masih ingatkah kau akan diriku?
Masih ingatkah kau akan mimpimu?
Masih ingatkah kau akan surau disana?
Tentunya kau tak kan mengingat
Diriku kini hanya
Merpati yang lumpuh
Sayap patahku lumpuhkan cinta
Jumat, 26 Agustus 2011
Ramadhan
Ramadhan selalu mengajarkan untuk bersabar dan bersyukur. Hidup apa adanya, bukan berarti diam tanpa usaha. Ramadhan tinggal bersama dengan non-muslim sungguh berat. Apalagi jika mereka tak respect. Ramadhan adalah bentuk jihad sebulan penuh yang menunjukkan inilah cinta muslim pada Tuhannya. Ukuran ketakwaan manusia.
Puasa sunah bisa dilakukan selain bulan ramadhan tanpa seorang tahu kecuali Allah dan pribadi masing-masing.
Ramadhan atau tidak tetap saja sama tidak ada beda dalam pekerjaan. Bersyukur ramadhan selalu jatuh pada musim panas sehingga tidak terlalu berat meski terkadang pada puncak musim panas di Hongkong. Terkadang si Boss melarang puasa karena takut mati pembantunya atau pingsan. Kadang tersenyum mendengar alasan mereka yang tak masuk akal.
Diskriminasi itu menyakitkan. Terkadang itulah yang terasa, namun tak ada pilihan. Seperti tahun-tahun sebelumnya selalu berusaha menjalankan ibadah rutin ramadhan, meski tarwih tak harus berjamaah. Tarwih sendiripun juga Ok, meski tak jarang berteman air mata. Tarwih dipenghujung malam, bersamaan makan sahur. Makan sahur terkadang adalah makan malam sekalian. Bersabar bahwa dengan inilah aku membeli kebahagiaan akhirat. Bukan dengan harta berlimpah.
Mengeluh andai ada tempat, tapi kurasa lelah berkeluh kesah dan apapun yang aku alami harus kusyukuri meski penderitaan, karena akan membuat senyuman indah untuk diri sendiri. Pekerjaan seakan tak ada habis, saat bedug magrib bertabuh dinegeriku, para muslim menikmati makanan dan minuman. Disini tak pernah kudengar suara bedug atau adzan, sebagai pengingat. Saat berbuka terkadang masih harus bekerja didapur , bisa jadi buka dengan berdiri. Itu masih beruntung, pernah aku lupa menaruh roti dalam tas saat perjalanan dengan majikan, jam 7 malam dalam mobil aku berbuka dengan sebutir permen. Alhamdulillah masih bisa menemukan permen meski sebutir. Baru bisa menikmati makan malam jam 10 malam, dan itu merupakan makan buka sekalian makan sahur aku. Meski begitu aku bersyukur, bisa menyempurnakan puasa yang hanya kutemui setahun sekali. Puasa ramadhan tidak mengajarkan untuk boros atau balas dendam saat berbuka dengan memuaskan makan apa saja yang tertunda saat siang hari. Puasa mengajak kita untuk selalu berbagi. So, jangan lupa tunaikan zakat untuk menyempurnakan puasa meski hanya sedikit. Sedikit itu sangat berarti bagi mereka yang memerlukan…
Minal Aidzin wal Faidzin
Mohon maaf Lahir dan Batin…
Cinta itu logika
Semua diluar rencana dan anganku, dan tiba-tiba saja keinginan kuat menarik untuk tetap disini demi suatu mipi yang harus kunikmati meski sekali dalam sepanjang usiaku. Akhir tahun ini kerjaku usai, dan dengan bebas bisa meninggalkan negeri beton besi ini.
Tapi semua aku urungkan. 180’ berubah haluan.
Satu atau dua bulan yang lalu, aku tak tahu aku jatuh cinta atau hanya karena rasa kesepian. Orang menyebutnya cinta, tapi tidak dengan aku. Aku merasa dia mencintai, tapi tidak. Rasa tertarikku pada seseorang yang tak pernah mengungkapkannya secara langsung. Atau bisa jadi karena aku saja yang terlalu gede rasa/GR.
Akhirnya aku berusaha menerimanya menjadi kekasih meski sulit, karena aku yakin sulit menemukan seorang yang sempurna. Perbedaan keyakinan dan suku atau adat berusaha aku indahkan, berusaha aku menyelami untuk mencapai suatu keharmonian hidup. Beruntung perkenalan sebatas komunikasi udara. Sekian hari, minggu aku mulai mengenal dirinya. Jujur sulit menerima, tatkala kuteringat bahwa aku harus mencari seorang iman dalam kehidupan bukan hanya cinta duniawi.
Meski aku bukan dari kalangan keluarga santri dan juga bukan penganut paham yang fanatic sebagai muslim, namun satu hal dalam hidup untuk menerapkan ilmu yang ada dan menjadikan hari esok lebih baik, dan hari ini adalah guru.
Dalam setiap detak nafasku selalu bertanya bisakah ia menjadi panutanku? Sedangkan aku sendiri sedang belajar, apa bisa aku mengajarnya untuk terus pada kebaikan jika tidak betapa berdosanya diri ini. Karena aku tahu setidaknya memberi kabar gembira tentang kebenaran hakiki pada mereka yang tak mengetahui. Sungguh hatiku bimbang, ragu akan keinginan untuk serius.
Aku peras otakku untuk berpikir seribu kali. Alhasil kuberikan gambaran tentang kehidupan muslim yang harus sholat 5kali sehari ataupun puasa. Bagiku itu gambaran dari yang ringan hingga yang berat untuk mereka yang belum mengetahui. Aku kasih lampu hijau untuk belajar dari sekarang. Tapi tak ada respon, karena ia ingin menunggu jika telah bertemu dan aku yang mengajari. Astagfirullah…betapa mudahnya menunda waktu…bukan lelaki seperti itu yang kucari…sungguh bagiku menunda-nunda adalah pekerjaan setan. Belajar saja berat apalagi puasa . Sungguh aku tak sanggup berhadapan. Sekali lagi ia berharap, karena benar-benar ingin serius. Aku utarakan niatku bahwa aku ingin menginjakkan kaki meski sekali seumur hidup ketanah suci untuk memenuhi panggilan Ilahi. Astagfirullah…ia mengatakan aku akan buang uang sia-sia. Aku adalah wanita yang lebih mencintai agama daripada kekasihnya.
Itulah buatku enggan berpikir tentangnya lagi. Tak perlu shalat istikharah karena bisa aku nalar dengan logika.
Perlahan kuputuskan silahturahmi. Aku merasa bersalah telah menyakiti hati seseorang, tapi apa dayaku, karena aku manusia biasa. Aku adalah calon penduduk akhirat bukan penduduk bumi.
Olehkarenanya semua kutunda, karena aku tak ingin merugi. Aku ingin memenuhi panggilan suciNya. Semoga Allah mempermudah jalan ini.