Tak terasa telah tujuh tahun berlalu, aku masih tetap berpijak di negeri ini. Tiga kali lebaran tidak melihat rupa kampong halaman. Jangan dikira tidak rindu dengan kampong yang membesarkanku. Rindu suasana ramadhan, idul fitri dan dengan segala macam rupa jajan khas kotaku. Andaikan dekat sudah tentu aku melayang kesana dalam sekejap.
Semua diluar rencana dan anganku, dan tiba-tiba saja keinginan kuat menarik untuk tetap disini demi suatu mipi yang harus kunikmati meski sekali dalam sepanjang usiaku. Akhir tahun ini kerjaku usai, dan dengan bebas bisa meninggalkan negeri beton besi ini.
Tapi semua aku urungkan. 180’ berubah haluan.
Satu atau dua bulan yang lalu, aku tak tahu aku jatuh cinta atau hanya karena rasa kesepian. Orang menyebutnya cinta, tapi tidak dengan aku. Aku merasa dia mencintai, tapi tidak. Rasa tertarikku pada seseorang yang tak pernah mengungkapkannya secara langsung. Atau bisa jadi karena aku saja yang terlalu gede rasa/GR.
Akhirnya aku berusaha menerimanya menjadi kekasih meski sulit, karena aku yakin sulit menemukan seorang yang sempurna. Perbedaan keyakinan dan suku atau adat berusaha aku indahkan, berusaha aku menyelami untuk mencapai suatu keharmonian hidup. Beruntung perkenalan sebatas komunikasi udara. Sekian hari, minggu aku mulai mengenal dirinya. Jujur sulit menerima, tatkala kuteringat bahwa aku harus mencari seorang iman dalam kehidupan bukan hanya cinta duniawi.
Meski aku bukan dari kalangan keluarga santri dan juga bukan penganut paham yang fanatic sebagai muslim, namun satu hal dalam hidup untuk menerapkan ilmu yang ada dan menjadikan hari esok lebih baik, dan hari ini adalah guru.
Dalam setiap detak nafasku selalu bertanya bisakah ia menjadi panutanku? Sedangkan aku sendiri sedang belajar, apa bisa aku mengajarnya untuk terus pada kebaikan jika tidak betapa berdosanya diri ini. Karena aku tahu setidaknya memberi kabar gembira tentang kebenaran hakiki pada mereka yang tak mengetahui. Sungguh hatiku bimbang, ragu akan keinginan untuk serius.
Aku peras otakku untuk berpikir seribu kali. Alhasil kuberikan gambaran tentang kehidupan muslim yang harus sholat 5kali sehari ataupun puasa. Bagiku itu gambaran dari yang ringan hingga yang berat untuk mereka yang belum mengetahui. Aku kasih lampu hijau untuk belajar dari sekarang. Tapi tak ada respon, karena ia ingin menunggu jika telah bertemu dan aku yang mengajari. Astagfirullah…betapa mudahnya menunda waktu…bukan lelaki seperti itu yang kucari…sungguh bagiku menunda-nunda adalah pekerjaan setan. Belajar saja berat apalagi puasa . Sungguh aku tak sanggup berhadapan. Sekali lagi ia berharap, karena benar-benar ingin serius. Aku utarakan niatku bahwa aku ingin menginjakkan kaki meski sekali seumur hidup ketanah suci untuk memenuhi panggilan Ilahi. Astagfirullah…ia mengatakan aku akan buang uang sia-sia. Aku adalah wanita yang lebih mencintai agama daripada kekasihnya.
Itulah buatku enggan berpikir tentangnya lagi. Tak perlu shalat istikharah karena bisa aku nalar dengan logika.
Perlahan kuputuskan silahturahmi. Aku merasa bersalah telah menyakiti hati seseorang, tapi apa dayaku, karena aku manusia biasa. Aku adalah calon penduduk akhirat bukan penduduk bumi.
Olehkarenanya semua kutunda, karena aku tak ingin merugi. Aku ingin memenuhi panggilan suciNya. Semoga Allah mempermudah jalan ini.
Jumat, 26 Agustus 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar