Minggu, 24 Mei 2009

Lebih Suka Dibodohi

Mbak minta nomor teleponnya....,itulah hal yang diminta sebelum aku berpisah dalam jalur MTR.Itulah kejadian yang entah terjadi kapan karena aku telah melupakan begitu saja,tapi tanpa aku duga ternyata ia menelepon ketika aku sedang asyik memainkan jari jemari menelusuri dunia maya.Gubrak...sehingga pikiranku flashback seketika dengan dibantu ocehannya lewat telepon.


Setelah mendengar ceritanya,aku benar2 tidak bisa berkomentar karena semua telah terjadi.Aku sendiri tidak bisa berbuat banyak selain nasehat kata2 yang sebenarnya sudah tidak berguna. Lagi lagi underpayment,dan tingginya biaya renew kontrak yang dikenakan seakan2 tkw adalah mesin ATM.Fitri,sebut saja namanya,tkw asal blitar.Untuk pertama kalinya menjadi tkw,ia belum mengetahui secara detail tentang seluk beluk peraturan ketenagakerjaan,yang ia tahu cuma bekerja sebaik2nya hingga selesai kontrak,majikan memberi gaji dan tidak main tangan.Itu semua sudah cukup menjadi suatu keberuntungan jika dibandingkan susahnya cari sesuap nasi dinegeri sendiri.

Aku menjadi semakin heran,dengan gaji dibawah standar,masih juga dipekerjakan untuk dua buah apartment.Mungkin setiap hari Fitri tidak pernah istirahat,bayangkan sibuk urus 2 buah apartment,masih harus urus 2 anak,belum lagi urusan dapur.Benar2 pandai banget meski belum berumah tangga.Keterampilan yang terpaksa karena tuntutan pekerjaan sehingga harus bisa untuk berbagai hal.Belum lagi hari libur yang tidak menentu,yang membuat aku heran hingga ia bisa menyelesaikan kontrak kerja.Bertambah keherananku,tatkala ia memperbaharui kontrak kerja di majikan yang sama,karena majikan memberi gaji standar.

Dengan kebaikan majikan yang bersedia memberi gaji standar,membuat luluh hati fitri untuk bekerja 2tahun lagi di majikannya.Tidak sampai disitu cerita fitri,ia harus membayar agen hampir 1 bulan gaji untuk biaya kontrak baru,padahal dalam aturan hanya dikenai 10% dari gaji,dan belum lagi biaya pembuatan paspor yang seharusnya cuma 60$ harus dibayar 5x lipat. Hmm........ternyata fitri ini baik sehingga semua dana dikeluarkan begitu saja tanpa berpikir panjang.Sambil tersenyum,aku berkomentar,ternyata kamu dermawan ya,bisa jadi mesin atm untuk para agensi yang nakal.Aku sendiri lebih memilih lari ketika diminta membayar 10%+check up,lebih baik ganti agen meski harus berdebat.Ugh...hal yang menyebalkan tapi memberi kenangan bahwa tidak selamanya pembantu itu bisa dibodoh2i,terutama tkw dari Indonesia terkadang lebih dianggap rendah dari negara pengekspor buruh seperti philipina.

Sebenarnya apa yang dialami fitri bukan hal yang terjadi pada fitri seorang,masih banyak fitri2 yang lain,yang selalu underground.Ketidakmampuan berkata tentang apa yang dialami membuat tkw semakin diinjak majikan yang egois,merasa menggaji pembantu sehingga dengan seenaknya sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar