Jumat, 17 April 2009

Kenangan 16 tahun tentang Bapak

Tepatnya 21 April 1993,bertepatan dengan hari Kartini,Bapak pergi menuju rumah keabadiaan. Setelah sakit beberapa minggu.Hanya doa yang bisa aku beri meski tidak bisa ziarah langsung,aku hanya ziarah tiap tahun ketika aku pulang kampung.

Bapak menurut aku sosok yang ideal,baik Bapak atau ibu tidak pernah membedakan anak kandung ataupun bukan,dan tidak membedakan anak dengan menantu.Sikap Bapak dan Ibu sangat baik dengan ipar aku,mereka menyanyangi seperti anak sendiri.
Aku terkenang masa kecil dimana Bapak memberi bekal hidup tentang kemandirian,arti kejujuran.
Dikala aku sakit-sakitan,Bapak selalu berusaha agar aku lekas sehat,tidak ternilai materi dikorbankan demi keselamatan putrinya.Ibu dan Bapak silih berganti menjaga di rumah pesakitan.
Bapak selalu memberi semangat agar aku cepat sehat,dengan memenuhi semua keinginanku jika aku sembuh.Bapak memang seorang yang perhatian,dan selalu membela ketika anak2nya dimarahi Ibu.Ketika aku duduk di kelas 1 sd,aku ingat pertama dan terakhir aku merayakan ulang tahun,Bapak mengajari makna serta arti tentang bertambahnya usia.
Kecil yang nakal,dan cengeng membuat Ibu selalu naik pitam.Ternyata Bapak tidak kehabisan akal mengajari agar bisa menjadi anak yang pengertian, ketika aku bolos sekolah dan ikut bapak kerja,Bapak menitipkan aku diperpustakaan umum.Dikala libur sekolah Bapak mengajak aku melihat anak2 jalanan,agar aku menjadi orang yang peduli jika nanti aku dewasa.Dan yang selalu aku ingat Bapak telah menunjukkan tentang lokalisasi PSK,meski terlalu dini ternyata aku merasa hal tersebut bermanfaat.Dimalam hari Bapak selalu ambil bagian membantu Ibu,mendongeng adalah tugas Bapak sebelum tidur.Kenangan dengan Bapak tidak pernah habis kuceritakan,dan terlalu indah untuk dikenang.

Ketika 3hari sebelum ulangtahun aku yang ke-12,Bapak telah pamit...........
Aku ingat dipenghujung malam sebelum shubuh, Ibu mengajak ke-3 putrinya berkumpul dan memberi ucapan selamat datang bagi sang Pencabut Kehidupan,memberi ucapan doa untuk kehidupan Bapak selanjutnya...Ketika suara adzan shubuh berkumandang,Bapak telah meninggalkan selama2nya,dengan untaian senyuman dimukanya.

Meski Ibu menjadi single parent,dan anak2nya telah kehilangan sosok Bapak,ternyata Ibu mampu mengambil alih nahkoda rumahtangga,dan bisa mengantarkan kehidupan anak2nya, meski tidak sedikit badai harus dilalui dalam rentang waktu yang tidak singkat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar