Entah dari sudut mana kumulai cerita ini. Tak mudah untuk mulai sebuah kisah yang sekian masa terpendam rapi. Rahasia yang akhirnya terkuak meski dengan linangan air mata. Jangan tanya mengapa dan kenapa? Karena ini adalah hidup. Hidup yang penuh sensasi dengan kejutan yang tak terduga oleh pelaku kehidupan. Tak seorang bisa melakukan hal sepele namun bernilai layaknya permata dari benua hitam. Beruntunglah wahai para penduduk negeri yang menikmati alam kebebasan tentang arti kemerdekaan. Mereka yang bebas dari segala tekanan dan himpitan kerasnya kehidupan. Berbagilah meski sedikit, pandanglah kami meski sekilas. Tentang kami yang selalu berpikir tentang kalian tanpa pernah berpikir tentang hidup kami sendiri. Senyuman negeri yang harus dibayar mahal. Bukan harga murah, jika mereka tahu sebenarnya.
Tidak semua yang datang kenegeri beton ini adalah manusia yang terhimpit permasalahan ekonomi. Tidak semua dari kalangan menengah kebawah. Tidak semua yang datang kesini adalah bermasalah. Meski tak dapat dipungkiri dan ini adalah sebuah fakta nyata bahwa mayoritas dari mereka adalah dari kalangan papa yang ingin merubah hidup kearah yang lebih baik. Mereka mengadu nasib layaknya bermain judi. Negara kaya namun miskin, hingga mengorbankan anak negeri merumput kenegeri tetangga. Kita tak bijak selalu menyalahkan Negara namun berharap pelaku kerajaan negeri lebih bijak dalam mengemban tanggungjawab tak mengorbankan rakyat hingga tujuh turunan.
Ratna adalah sahabat diantara para sahabat berpendidikan tinggi. Ia lebih intelektual dalam berpikir. Berpandangan cemerlang. Pada akhirnya bergelut dengan dunia migrant yang tak membedakan strata. Darimanapun mereka adalah sama, bekerja dengan label seragam, gaji standar, hak dan kewajiban sama. Profesi ini tak mengenal stratifikasi. Perbedaan hanya dapat dirasakan oleh individu saat tinggal bersama majikan. Benar,perlakuan majikan yang membedakannya.
Namun apa yang terjadi pada Ratna tak sebaik yang lain. Kehidupan dalam bekerja penuh dengan duri yang menusuk hingga ke tulangnya. Sakit tak pernah dirasa. Mematikan rasa, hingga rasa itu mati dengan sendirinya. Ia tak pernah menyangka pekerjaan tak semudah bayangan. Kesabaran ekstra adalah kunci pekerjaan. Ilmu tak cukup sempurna tanpa diimbangi kesabaran.
Dari lulusan universitas negeri kota pelajar Ratna datang kenegeri ini. Kesempatan bekerja dinegeri hanya untuk mereka yang beruang. Meski tidak semua kesuksesan bekerja dimulai dari uang. Ketidaksabaran menunggu kesempatan membuat Ratna nekat menjadi migrant di Hongkong. Ternyata kehidupan dinegeri orang lebih keras dari negeri sendiri. Haruskah ia mundur sebelum berperang. Tidak. Ratna tak pernah bergeming. Ia tetap saja tegar, berdiri kokoh, bak patung hidup diterpa angin. Berbagai hujatan dari majikan tak pernah beralasan selalu ia terima bak makanan harian. Tak seorang tahu, hanya ia dan Tuhan yang Maha tahu tentang sebenarnya.
Tak terbayangkan dalam pikiran maupun angannya jika kelak akan bekerja melayani keluarga kelas menengah keatas untuk kalangan atas masyarakat dunia. Semua pekerjaan ada sisi positif dan negatif. Susah, senang atau suka duka layaknya perputaran roda yang akan terus berputar tanpa sebuah titik akhir. Pernahkah kita berpikir tentang perasaan seseorang yang harus bekerja untuk seorang majikan yang begitu cemburu, dimana ia harus tinggal 24 jam dalam ikatan kontrak kerja selama masa tertentu?
Kenapa ia tetap bertahan? Keadaan yang membuatnya untuk tak bergeming. Ingin kembali terlanjur basah, daripada tanggung lebih baik terus menyelami pekerjaan hidupnya. Pernah aku bertanya pada Ratna, "Kenapa kamu masih bertahan dengan sikap nyonya majikan, yang selalu berprasangka?"
Ratna hanya tersenyum, sembari berkata, “ Uang adalah segalanya, uanglah yang bekerja, dengan uang mereka bisa membeli segalanya. Dan mereka adalah termasuk manusia yang menTuhankan uang.
Kamu tahu sendirilah orang disini gimana, dan bagaimana mereka memperlakukan pembantu. Pembantu bukanlah bagian keluarga mereka, mereka telah memenuhi kewajiban untuk membayar sudah, tidak perlu mikir hal yang jlimet.”
Memang ada benarnya apa yang telah terungkap oleh Ratna. Semua alur kehidupan disini seakan berjalan dengan uang. Tanpa uang tak ada yang bergerak. Benar juga bait lagu yang dinyanyikan H.Rhoma Irama, dari bayi hingga mati sekalipun butuh uang. Tapi apakah hidup hanya untuk uang selamanya. Sehingga kita menjadi manusia yang diperbudak oleh uang. Uang memang penting. Hidup bukan untuk uang, sehingga hidup terkendali oleh uang. Hidup butuh uang, tapi semua hal dalam kehidupan tak selalu tergantung uang. Semua tak bisa terbeli dengan uang, seperti kebahagiaan hati.
Memang benar, Ratna begitu bahagia meski hatinya terkoyak. Ia tetap tersenyum. Menikmati kesedihan hingga terasa manis. Seribu satu BMI yang bernasib seperti Ratna, meski sikap majikan kurang bersahabat ia masih sempat melihat belahan dunia barat, menapakkan kaki di benua eropa. Mungkin bagi orang lain bukan hal aneh, untuk kesana. Hal luar biasa adalah pekerjaan sebagai Dh yang terkadang dianggap pekerjaan rendah dan tak berkelas mampu memberi keajaiban dimana tak semua orang bisa. Tapi akankah pernah terpikir seorang biasa mampu melayani seorang terhormat atau berjabat tangan dengan Elizabeth sekaligus. Hal yang dialami Ratna tak lantas membuatnya besar kepala, baginya itu suatu hal biasa. Nikmat atas kesabaran. Apa yang ada dalam pikirannya adalah, seburuk apapun seseorang pasti ada sisi baiknya meski hanya segaris
Cerita kehidupan nasib para pendulang devisa negeri memang tak habis diceritakan. Semua sisi buruk tak perlu diungkap, tapi akankah semua hanya diam sebelah mata tanpa mengerti hal sesungguhnya. Oh para pendulang devisa kadang kurasa bodoh pemikirannya atau karena mulia hati sehingga hidup hanya memberi tanpa tahu kapan akhirnya? Mereka bersusah payah mengumpulkan dolar demi dolar untuk negeri, tapi para tikus Negara yang selalu menikmati hasil dengan jalan kotor. Engkau yang selalu menderita tanpa akhir yang jelas, namun dinegeri para tikus berpesta. Apakah para tikus tidak pernah merasa malu akan perbuatannya. Namanya juga tikus, tahunya makan apa saja yang ada didepannya.
Tempat berpijak terkadang tak selalu mempengaruhi pola pikir. Semodern apapun masih terlihat garis-garis budaya Indonesia asli. Dari hal tersebut bisa disimpulkan meski bangga dengan tempat berpijak, masih ingat tentang tempat yang membesarkannya. Tak perlu malu mengakui Indonesia sebagai asal. Aku, Ratna, atau mereka masih tetap seorang Indonesia. Kemanapun aku melangkah dipenjuru bumi, pasti di Indonesia kukembali. Darahku adalah seorang Indonesia, hidup mati tetap Indonesia. Meski tak dapat dipungkiri tidak sedikit dari para BMI yang kian menipis nasionalismenya. Kenyamanan negeri orang enggan untuk kembali. Jika semua migrant enggan pulang setelah pandai, bisa kupastikan negeriku tak pernah besar. Dari negeri ini kutahu tentang kunci sukses bangsa mereka. Semua anak negeri dikirim ke luar negeri untuk belajar, mencuri ilmu dari Negara lain. Tapi mereka akan kembali kenegeri mereka setelah pandai, tidak pernah bangga dengan Negara orang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar