Akhirnya kudapatkan waktu luang untuk menengok blog yang sekian lama tak terurus. Berulang kucoba, alhasil masih kuingat pasword yang hampir terlupa. Maklum rumah mayaku tidak hanya blog, jadi rada sibuk urusnya. Rumahku di friendster telah raib, setelah aku nonaktifkan email di mesenger. Semua teman mungkin dah lupa atau bahkan tidak ada lagi tamu yang berkunjung. Meski begitu masih ada facebook yang tetap exist, so aku masih tetap exist di maya. Tapi begitulah hukum maya, kian aktif kian banyak teman. Tapi blog ini tetap aku cinta, karena blog ini pula yang mengajari untuk belajar jurnalistik secara otodidak, memaksimalkan kemampuan dalam keterbatasan ruang dan waktu.
Sebenarnya aku tak ingin menulis, tapi rasanya sayang jika tidak share dengan pembaca yang mampir, meski mereka membaca atau tidak. Untuk sebuah komentar tidak terlalu penting bagiku, meski bagi seorang penulis sebuah komentar adalah kebahagiaan sendiri. Nilai sebuah tulisan dapat dinilai dari sekian banyak komentar yang masuk. Bisa jadi sudah sikap aku yang egois sehingga tidak terlalu mementingkan penghormatan atau penghargaan. Karena aku seorang yang menghargai tindakan daripada kata-kata yang terkadang hanya lenyap terbawa angin lalu.
Dalam beberapa hari aku disibukkan dengan tulisan kedua tentang wanita dalam 3 warna, meski baru taraf awal, namun kuingin selesai akhir tahun ini, sebagai hadiah untuk wanita dalam hidupku. Bukannya kejar target, hanya saja aku tak ingin menyiakan waktu kala diri berbicara dengan nurani, sehingga kata-kata mengalir begitu saja.Tak hayal sampai tidur pagi yang berakibat down, kerja serasa memikul gunung meski pada kenyataan kerjaku santai. Beruntung nyonya majikan pengertian dan baik hati. Meski tak jarang aku terlambat bangun, tak ada teguran terhadap diriku. Malah sering kutemui tuanku telah cabut kerja, aku masih asyik dipulau mimpi. Membayangkan dinegeri sendiri, mungkin aku sudah dikeluarkan dengan tidak hormat.
Aku begitu bahagia dengan hidupku. Bahagia dengan nikmat dan kasih Tuhan. Aku benar tidak dapat menghitung berapa nikmat yang telah kuterima. Meski suatu kepahitan sekalipun itu adalah nikmat, karena didalamnya terdapat bahagia yang terasa manis. Semanisnya madu, bahkan lebih manis tatkala kurasa dengan hati. Aku tak ingin menjadi siapapun jua, cukup be myself, memaksimalkan diri. Bukan berarti pasrah. Karena apa yang aku miliki bisa jadi adalah kelebihan bagi orang lain, sesuatu yang yang diinginkan seseorang.
Apakah kebahagiaan selalu identik dengan materi? Jujur materi bukan ukuran bahagiaku. Kala dompetku penuh dengan dolar, tapi ragaku sakit. Uhh..rasanya merana banget, mana masih harus kerja. Seakan penampilan bukan hal utama. Yang ada dalam otakku hanya ingin sehat. Setelah minum obat aku ingin sehat dalam hitungan menit, andai kubisa.
Saat kubisa membantu kesulitan orang lain, sedang aku kekurangan, aku merasa bahagia. Bahagia, kala melintas lautan birunya langit, melihat kebesaran Tuhan secara nyata. Melintas antar benua dalam hitungan jam, mengukur lingkaran dunia dalam hari. Hal yang kumimpikan kala kecilku, meski tak terbayangkan menjadi nyata.
Bahagia kala kuterima layout karyaku "Diary Seorang Buruh Migran". Aku terasa diawang-awang. Kulantunkan pujian tiada henti, aku merasa satu dari sekian orang yang beruntung dibumi ini.
Mau nulis cerita, malah curhat ke berbagai arah tak tentu. Maklum pikirannya bercabang, ok deh aku mulai saja semoga bermanfaat..
Wajah-wajah datang dan pergi...
Rasaku belum berganti...
Aku tak pernah berhenti...
Aku terus menunggu...
Menunggu yang aku cari..
Aku berkenalan dengan Mr. osvaldo. Dia adalah seorang lelaki sempurna. Hatiku berkata, tentang penilaian dari segi fisik. Outside view. Namanya juga wanita sendiri, siapa seh yang tidak tertarik dengan rayuan bombastik. Membuat diri melambung diawang-awang. Melambung jauh dalam angan-angan semu. Beruntung aku tersadar dari mimpi semu. Dia selalu menyapa lewat suara meski waktu memisahkan. Satu yang tidak kuutarakan tentang profesi ini. Meski bisa saja aku jujur. Aku hanya ingin menguji seberapa dalamnya ucapan yang terdengar.
Cintaku bukan emas yang berkilau...
Cintaku hanya perak..
Tak pernah berubah...
Cintaku hanya kan terkikis oleh kebohongan...
Suatu hari, aku jujur, I'm only helper. Aku hanya seorang pembantu. Aku tidak ingin membuang waktu, dan tenaga dengan seseorang yang memandang dari sudut luar. Yang aku tahu pastinya mereka yang melihat atau mengenal dari jauh tidak akan menyangka atau mengira bahwa aku adalah pembantu. Tak ada yang salah dengan profesi yang kusandang.
Tapi aku tak menduga ternyata lelaki itu licik. Beruntung ia mempermainkan aku, bukan yang lain. Aku ikut permainannya. Meski aku tidak ada feeling cinta. Sekedar cinta biasa, cinta sesaat yang pergi begitu saja. Itu yang terjadi. Setelah tahu aku adalah pembantu, ia melempar ketemannya. Satu yang kutanya "Apakah anda Mr. Osvaldo?" Ternyata ia tetap saja bilang ia adalah Mr. Osvaldo. Ternyata kejujuran itu mahal, dan sulit ditemui sekalipun dialam nyata ataupun maya. Apakah dengan begitu kita berbohong, tentunya tidak. Untuk apa mencontoh ketidakjujuran, kalau kejujuran masih selalu membuka jalan dalam setiap langkah kehidupan yang menuju kebaikan.
Apakah aku marah dengan kebohongannya?
Tidak, aku tidak marah dengan ketidakjujurannya. Kuikutsaja kemana arah jalannya. Seperti layaknya anak kecil malah tak kularang. Aku tetap menunjukkan kebaikan hatiku. Kutebarkan makna cinta, makna hidup. Meski aku sendiri masih terus belajar. Aku merasa bosan, ketika ia ternyata jatuh cinta, aku tak ingin mempermainkan atau membalas dendam, saatnya kuungkap.
"Jika selama ini kukatakan cinta itu hanya cinta semu. Jika aku berbohong, maafkan aku. Jika kemarin aku yakin, tidak untuk hari ini dan seterusnya. Aku hanya ingin berteman, dan tidak lebih" sms yang aku kirim.
Sudah dipastikan hello kitty kecilku berdering. Segala kejujuran terkuak. Berbagai pengharapan lebih dari pertemanan dikatakan. Tapi dengan tegas kukatakan, " Katakan pada temanmu (Mr. osvaldo) jangan pernah mempermainkan wanita, apakah ia tidak ingat dari rahim wanita ia lahir. Meski aku seorang pembantu, bukan berarti aku rendah. Hatiku tidak sehitam hatinya. Hatiku emas, lebih bernilai dari hatinya. Apa yang ia tanam kelak ia kan menuai"
Itulah yang aku katakan. Meski ia minta maaf, aku katakan itu bukan kesalahan karena kebodohannya yang mau dipermainkan dari seorang teman. Betapa teganya seorang teman yang memperdaya karibnya. Semua inti kesalahan adalah pada Mr. Osvaldo. Karena ia adalah yang pencetak ide permainan ini. Aku juga tidak bisa menerima cintanya ataupun cinta Mr. osvaldo.
Semoga aku tidak pernah bertemu dengan lelaki sejenis Mr. Osvaldo, yang hanya memandang cinta dari sisi luar. Cinta sejati tak pernah memandang tentang profesi, jabatan, pakaian yang ia sandang, tapi dari hati yang terbaca oleh mereka yang berilmu dan mengerti apa itu cinta.
Apa yang terlihat baik belum tentu baik di dalamnya. Semua sama dengan fenomena negeri yang terbaca lewat media online. Para raja kecil hingga besar memamerkan pakaiannya, berita KKN yang tak pernah berujung hingga termakan berita lain. Apa yang aku alami, membuatku tertawa. Andai yang ia permainkan bukan aku, apa tidak akan membuat wanita lain menitikkan air mata gara-gara maya. Semoga kita semua lebih waspada akan cyber crime. Tebarkan kebaikan, jangan membalas dendam seberapapun sakitnya, biarlah semerbak harumnya kebaikan mewarnai bumi.
Sendiri dan menunggu yang kucari tetap is the best..daripada memaksakan yang hanya membuat lelah. Jika aku tak menulis bukan berarti aku pasif, karena aku tetap menguntai kata untuk merajut selendang hati...
Good luck.........
Rabu, 19 Januari 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar